Jumat, 03 April 2015

Membumikan Perintah Iqra’


MEMBACA adalah kegiatan memahami deretan huruf. Kegiatan ini kalau dikembangkan dan dijadikan suatu budaya, akan dapat merubah kehidupan baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bangsa, kehidupan dunia maupun akhirat. Tidak mengherankan jika negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika membudayakan membaca di tengah-tengah masyarakatnya.
Jauh sebelum negara maju itu membudayakan membaca, 15 abad yang lalu Al Quran sebagai pegangan utama umat Islam telah mewajibkan membaca. Perintah itu dicantumkan di dalam ayat pertama surat Al Alaq dengan kata “iqra”, artinya bacalah.
Pemahaman tentang perintah Iqra’ dan merealisasikannya dalam kehidupan telah membuat kehidupan manusia menjadi dinamis. Manusia yang tidak tahu dengan tulis baca merubah kehidupannya menjadi aktif dan bergerak. Manusia yang pada mulanya ummi dengan memahami perintah iqra’ tampil menjadi pemimpin dunia. Bahkan beliau tidak hanya mensejahterakan manusia di dunia saja. Dari mengamalkan perintah iqra’, beliau mengantarkan manusia lainnya bahagia dunia dan akhirat. Itulah dia Rasulullah, Muhammad SAW. Kepadanya perintah Iqra’ itu mulai diturunkan pertama kali.
Mengapa memahami dan mengamalkan perintah iqra’ itu bisa merubah kehidupan manusia? Karena dengan membaca kita disuguhi kata-kata yang berkualitas oleh pengarang. Kata-kata yang berkualitas itu akan masuk ke dalam diri kita. Ibarat makanan, kalau kita memasukkan ke dalam diri kita makanan yang bergizi, makanan yang bervitamin, tubuh kita akan menjadi sehat.
Kata-kata yang berkualitas dari bacaan yang kita baca, akan menyebabkan pemikiran kita akan menjadi sehat. Hati yang sehat akan melahirkan tindakan yang baik dan benar. Kata-kata yang berkualitas itu ibarat kendraan yang mengantarkan kehidupan kita kepada tujuan yang hakiki. Tujuan hidup manusia yang hakiki itu adalah sejahtera lahir batin dunia dan akhirat.
Kalau kita membaca buku-buku yang bernilai hikmah, akan kita rasakan gelora untuk mendapatkan nilai-nilai baik. Nilai-nilai yang ditanamkan dalm buku yang mengandung hikmah mengajak kita untuk mencintai perbuatan baik. Hati menjadi gembira dengan mebaca buku-buku yang mengandung hikmah. Mebaca buku-buku aqidah akan membuat keyakinan kepada Allah menjadi kuat. Membaca buku-buku Sirah Nabawiyah akan memperkokoh langkah kita mengikuti jalan yang beliau bentangkan.
Al Quran adalah kitab yang paling tinggi dan mulia. Dia perkataan Allah yang disampaikan melalui Rasulullah, Muhammad SAW. Kandungan kata-katanya mempunyai nilai gizi yang tinggi. Membaca Al Quran berpahala. Mengamalkan kandungan isinya akan membawa manusia kepada ketentraman hidup lahir batin, dunia dan akhirat.
Orang yang tidak mau memahami isinya dan tidak mau bersentuhan dengan Al Quran itu, menyebabkan kehidupannya seperti orang yang kehabisan darah. Pelan-pelan dia akan mengalami kematian. Kematian hati, kematian terhadap pandangan dan tujuan hidup. Jika pandangan dan tujuan hidup tidak jelas, hanya nyawanya mungkin ada tetapi hakikat hidup tidak dirasakannya.
Bangunkanlah hati untuk kembali belajar dengan membaca, terutama membaca, menghayati dan mengamalkan ajaran Al Quran. Ketika hati dalam keadaan senang dalam belajar dia akan lebih punya kekuatan untuk membangunkan suara keledai dan bunyi reruntuhan yang mengejutkan

Anjuran Nabi Untuk Tersenyum dan Mencium Anak-anak


NABI Muhammad SAW menyayangi anak-anak dengan senyuman, ciuman, dan menganjurkan agar para ayah menyayangi anak-anak mereka.
Abu Hurairah berkata :
“Rasulullah bersabda, ‘siapa saja yang tidak mengasihi anak-anak dan tidak mengetahui hak orang-orang tua dari kalangan kami maka ia bukan dari golongan kami.”
Abu Hurairah juga berkata :
”Rasulullah mencium Al-Hasan, sedangkan di hadapan beliau saat itu ada Al-Aqra bin Habis yang sedang duduk. Al-Aqra berkata, ‘saya punya sepuluh anak, tetapi saya belum pernah mencium seorangpun di antara mereka. ‘ Rasulullah memandang ke arahnya dan bersabda, ‘barang siapa yang tidak punya rasa belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihani’.”
Tsabit telah meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi SAW mengambil putranya, Ibrahim, lalu mencium dan mengendusnya.
Anas berkata, “Nabi SAW adalah sosok manusia yang paling penyayang terhadap keluarga. Beliau dahulu memiliki seorang anak yang disusukan di pinggir Madiah dan ibu yang menyusui itu adalah seorang pendidik. Kami pernah mendatanginya. Ia telah mengasapi rumahnya dengan rerumputan. Maka beliau mencium dan mengendus anaknya.”
Nabi menganjurkan kepada para ayah untuk menyayangi anak-anak mereka. Di antara hadits yang menjelaskan haln ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bahwa seorang wanita datang kepada Aisyah,lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu pun memberikan kepada kedua anaknya, lalu membelah sebiji buah kurma itu menjadi dua bagian dan memberikan kepada dua anaknya itu. Tidak lama kemudian Nabi datang dan Aisyah menceritakan peristiwa itu kepadanya. Maka Nabi bersabda, ‘mengapa kamu mesti heran dengan sikapnya? Sesungguhnya Allah telah merahmatinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya itu’.”
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa seorang wanita dengan kedua anak perempuannya, dan seterusnya hingga akhir kisah. Ketika Aisyah menceritakan hal itu kepada Nabi, beliau bersabda :
“Barang siapa mendapat suatu ujian dari anak-anak perempuan ini, lalu ia tetap memperlakukan mereka dengan baik, kelak mereka akan menjadi penghalang bagiya dari neraka”.
Jadi, memeluk, mencium dan menggendong anak. BUkan hanya sekedar nalluri orangtua, tapi juga bernilai ibadah

Kamis, 02 April 2015

Sejarah Gedung Parlemen yang Jarang Terungkap


Pada 73 tahun silam, sebuah madrasah sederhana didirikan di daerah Petunduhan, Jakarta Pusat. Madrasah Islamiyah, nama madrasah tersebut, berdiri di atas lahan seluas 500 meter. Madrasah yang didirikan KH Abdul Manaf ini merupakan cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Darunnajah yang kini berlokasi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang mengasuh lebih dari 8 ribu santri.
Siapa sangka, setelah hijrah dari Petunduhan ke Pesanggarahan, sepetak tanah itu kemudian bertransformasi menjadi sebuah gedung megah pada 1959. Gedung tersebut kita kenal sebagai Gedung Kura-kura alias Gedung Parlemen RI. Ya, ternyata Gedung Parlemen di Senayan berdiri di atas lahan wakaf bekas lembaga pendidikan Islam.
Tidak banyak orang yang mengatahui sejarah ini, termasuk Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. Mendengar cerita yang disampaikan Wakil Pimpinan Ponpes Darunnajah K.H. Mustofa Hadi pada Selasa (1/4/2015) itu, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid tak bisa menyembunyikan keterkejutan sekaligus kekagumannya.
"Semoga semangat madrasah itu tetap terjaga di gedung ini," kata Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menanggapi kisah tersebut saat menjamu Pimpinan Ponpes Darunnajah di ruang kerja pribadinya.
Terlebih, lanjut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, kini isu radikalisme santer terdengar. Berbagai lembaga Islam dituduh menyebar kebencian dan mendukung gerakan ISIS. Hal ini kemudian diperparah dengan diblokirnya 19 media Islam oleh Kemenkominfo baru-baru ini.
Padahal, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengatakan, kita tidak dapat memungkiri peran umat Islam, khususnya dari kalangan pondok pesantren, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Pesantren seseungguhnya dihadirkan untuk membela bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, dan melawan penjajahan," ungkap Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang memang berasal dari lingkungan pondok pesantren.
Apalagi, dalam audiensi tersebut dijelaskan, Ponpes Darunnajah telah mengembangkan program Santri Bela Negara sejak 2008 silam. Program ini, kata Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid sejalan dengan program Sosialisasi Empat Pilar RI yang diusung MPR.
"Dua program ini bisa kita kolaborasikan. Sehingga tuduhan pesantren itu radikal dan mendukung ISIS bisa terkoreksi dengan baik," jelas Wakil Ketua MPR RI Hidayat Wahid yang dibenarkan para Pimpinan Ponpes Darunnajah.
Saat ini, kata Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Indonesia membutuhkan lembaga pendidikan Islam yang besar dan berkualitas yang nantinya bisa mengikis isu-isu radikalisme seperti itu. Menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Turki bisa menjadi model percontohan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas.
"Mereka itu pendidikan agamanya kuat, namun kajian ilmunya juga bagus. Mereka bisa berbaur dalam masyarakat dunia tapi keislamannya tetap terjaga," tutup Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid siang itu.

Antara Umar Bin Khathab Radhiallahu’anhu Dan Harta

Tipe Pejabat pilihan Umar, bukan dilihat dari kekayaannya

Umar radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang memiliki pandangan yang benar terhadap harta.  Harta bukanlah menjadi patokan seseorang itu baik atau tidak, bertakwa atau tidak dan layak menjadi pemimpin atau tidak.
Oleh karena itu, sebagai kepala negara, dalam memilih para pejabat yang menjadi bawahannya beliau tidak menetapkan kekayaan sebagai kriteria dasar bagi kelayakan seseorang sebagai pemimpin kaum muslimin. Walaupun seseorang itu berasal dari kalangan budak, beliau akan memilihnya menjadi pemimpin jika syarat-syarat kepemimpinan terpenuhi.
Suatu hari Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab radiyallahu ‘anhu  di daerah ‘Usfan. Saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi’.
Umar bertanya,
من استعملت على أهل الوادي؟
Siapa yang engkau tunjuk menjadi pemimpin daerah lembah?
Nafi’ menjawab,
ابن أبزى
Ibnu Abza
Umar bertanya,
ومَنْ ابن أبزى؟
Siapa Ibnu Abza?”
Nafi’ menjawab,
مولى من موالينا
Seorang bekas budak dari budak-budak kami yang telah dimerdekakan
Umar bertanya kembali,
فاستخلفت عليهم مولى؟
Engkau telah memberikan kepercayaan tersebut kepada seorang bekas budak?“
Nafi’ mengatakan,
إنه قارئ لكتاب الله عـز وجل ، وإنه عالـم بالفرائض
Sesungguhnya dia adalah seorang Ahlul-Qur’an (yang hafal, paham, dan mengamalkannya) dan pakar ilmu Syari’at Islam
Umar berkata,
أما إن نبيكم صلى الله عليه وسلم  قال : إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين.
“Sungguh Nabi kalian shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain karena sebab sikap yang salah terhadap Al-Qur`an” (Shahih Muslim: 817) .
Jelaslah dari kisah di atas bahwa pemimpin yang faham agama Islam dan semangat mengamalkannyalah yang dipilih dan disetujui menjadi pejabat pada masa beliau. Di samping itu, tentu beliau memperhatikan kriteria-kriteria lain yang sesuai dengan tugas yang diembannya.

Pembuktian terbalik

Umar radhiyallahu ‘anhu tidak hanya menerapkan kriteria-kriteria yang baik dalam memilih seorang pejabat, namun beliau juga tidak membiarkan pejabat pilihannya menyeleweng di tengah-tengah bertugas. Beliau menerapkan berbagai bentuk pembinaan dan pengawasan dalam berbagai hal, di antaranya adalah pengawasan dalam masalah harta.
Salah satu bentuk pengawasan harta pejabat bawahannya yang beliau terapkan adalah apa yang disebut pada zaman ini dengan istilah pembuktian terbalik, pembuktian yang berasal dari diri pejabat itu sendiri untuk menyatakan bahwa dirinya tidak menyelewengkan, mengambil, atau mengorupsi uang negara.
Suatu saat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu datang berkunjung menemui Umarradhiyallahu ‘anhu. Ketika itu Umar telah mengangkat Abu Hurairah sebagai pejabat di Bahrain. Ia membawa kekayaan sebesar sepuluh ribu keping uang emas (sekitar 42,5 kg emas). Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
استأثرت بهذه الأموال يا عدو الله وعدو كتابه
Engkau telah melebihkan dirimu dengan harta ini, wahai musuh Allah dan musuh Kitab-Nya! “.
Berkatalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
لست بعدو الله ولا عدو كتابه، ولكني عدو من عاداهما
Aku bukanlah musuh Allah dan bukan musuh Kitab-Nya, akan tetapi aku adalah musuh orang yang memusuhi Allah dan Kitab-Nya“.
Umar pun bertanya,
فمن أين هي لك
Darimana uang ini engkau dapatkan?
Abu Hurairah menjawab,
خيل لي تناتجت، وغلة رقيق لي، وأعطية تتابعت علي
Kudaku berkembang biak, hasil usaha budakku naik, dan bagianku dari harta rampasan perang menumpuk“.
Umar radhiyallahu ‘anhu memberhentikan Abu Hurairah. Setelah itu para petugas Umar menyelidiki asal dari uang tersebut, ternyata mereka dapatkan sesuai dengan pengakuan Abu Hurairah, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu pun meminta kembali Abu Hurairah untuk menjadi pejabat, namun Abu Hurairah menolaknya (Riwayat Hasan, diriwayatkan oleh Abdur Razzaq di Mushannaf dan Ibnu Sa’din dalam Ath-Thabaqat  dan Abu Nu’aim di Hilyah Auliya`). [1]
Nampak dari kisah di atas,  Umar radhiyallahu ‘anhu meminta Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu untuk membuktikan darimana asal hartanya tersebut, sesudah itu  para petugas Umar mengauditnya.

Amanah Umar radhiyallahu ‘anhu dalam menunaikan hak para pejabat yang menjadi bawahannya berupa harta

Bukan hanya kewajiban pejabat saja yang beliau awasi, namun beliau juga memperhatikan pemenuhan hak-hak para pejabat bawahannya, beliau berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan para pejabatnya, agar mereka tidak tergoda  menggelapkan uang negara. Berikut ini salah satu buktinya.
Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar radhiyallahu ‘anhu termasuk salah satu petugas penarik zakat dan termasuk orang yang mendapatkan kepercayaan mengurus harta kaum muslimin.
Pada masa kekhalifahan beliau radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah menunjuk Abdullah bin As-Sa’di untuk mengurus harta shodaqoh, dan ketika  Abdullah bin As-Sa’di telah menyelesaikan tugasnya, Umar pun memberi upah kepadanya, namun  Abdullah bin As-Sa’di berkata,
إنما عملت وأجري على الله
Sesungguhnya aku bekerja sedangkan balasanku dari Allah”.
Lalu Umar menjawab,
خذ ما أعطيت، فإني عملت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فَعَمَّلني فقلت مثل قولك،
Ambillah pemberianku ini, karena dulu aku bekerja di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun memberi upah hasil kerjaku, lalu aku pun mengatakan seperti ucapanmu (tadi).
فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم :”إذا أعطيت شيئاً من غير أن تسأل فكل وتصدق”
“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Jika engkau diberi sesuatu tanpa meminta maka makanlah dan bersedekahlah (dengannya)’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan yang lainnya).

Perhatian Umar bukan hanya kepada harta pejabat, namun juga kepada rakyat

Beliau  radhiyallahu ‘anhu memperhatikan para pejabat bawahannya, namun beliau juga memperhatikan nasib masyarakat yang beliau pimpin. Sebagai contoh adalah Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki perhatian yang besar terhadap status kehalalan makanan yang dikonsumsi masyarakatnya. Beliau tidak ingin makanan yang haram mengotori hati masyarakatnya, sehingga berdampak munculnya berbagai macam kemaksiatan akibat tidak dihiraukannya konsumsi makanan yang haram tersebut.
Umar radhiyallahu ‘anhu suatu saat pernah menulis kepada para pasukannya yang berada di Azarbaijan surat sebagai berikut :
بلغني أنكم في أرض يخالط طعامها الميتة، ولباسها الميتة، فلا تأكلوا إلا ما كان ذكياً، ولا تلبسوا إلا ما كان ذكياً
Telah sampai kepadaku bahwa kalian tinggal di daerah yang tercampur makanannya dengan bangkai dan demikian juga pakaiannya, maka janganlah kalian memakan kecuali hewan sembelihan (yang halal) dan janganlah kalian memakai pakaian kecuali dari (kulit) hewan yang disembelih (secara Syar’i)” (Riwayat Shahih,diriwayatkan oleh Ibnu Sa’din di Ath-Thabaqat). [2]
Dari kisah di atas, terdapat pelajaran besar bahwa menjadi tugas bagi pemerintah untuk menjaga masyarakatnya dari seluruh jenis konsumsi yang haram dan menjauhkan sarana-sarana keharaman, baik berupa toko, pasar maupun mall-mall yang menjual makanan dan minuman yang haram.
***
Catatan kaki
[1] Dinukil dengan sedikit perubahan dari Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF),2/639 dan Harta haram, Ust. DR. Erwandi
[2] Dinukil dari Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF), 2/109
Referensi

  • Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF).
  • Harta haram, Ust. DR. Erwandi.
  • Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.
  • Al-Fiqhul Iqtishadi, DR. Jaribah Al-Haritsi.

Rabu, 01 April 2015

Nasehat Abu Bakar


AKALsehat bersepakat dengan nasehat Abu Bakar "Perbaiki dirimu maka manusia akan baik pada dirimu". Mengharapkan orang lain berubah menjadi baik pada kita sementara kita tidak baik pada mereka adalah sebuah pengharapan sia-sia.

Ada teori yang namanya teori aksi-reaksi yang lazim dimaknai sebagai kesamaan tingkat reaksi dengan tingkat aksi. Ubahlah aksi, maka reaksi akan berubah. Betapa teori ini semakna dengan nasehat Abu Bakar tadi.

Mari sejenak kita membaca fakta politik kita dengan menggunakan nasehat Abu Bakar ini. Panggung politik kita sedang tidak elok dijadikan tuntunan dan tontonan, terutama ketika harus muncul DPR tandingan, padahal tidak ada Presiden tandingan dan Indonesia tandingan. Katanya adalah karena DPR yang asli bereaksi "tidak mau diajak musyawarah mufakat."

Kita sebagai konsumen media tidak bisa membaca aksi politik ini secara hitam putih dan meyakininya dengan pola pemikiran dogmatik yang cenderung menganggap diri dan kelompok dirinya sebagai yang paling benar, paling berhak dan paling otoritatif. Media kita banyak yang sangat partisan; terjebak pada kepentingan politik tertentu. Namun saya yakin sebagian besar rakyat adalah masih sehat dan berharap Indonesia kita ini sehat.

Bagaimana cara menyelesaikan tandingan-tandingan seperti di atas? Menurut saya, salah satunya adalah dengan mengubah "aksi" maka reaksi pun akan berubah. Hentikan sifat arogan, merasa hebat, merasa didukung semua rakyat, merasa satu-satunya pemilik Indonesia dan merasa satu-satunya "aktor" yang bisa mengatur Indonesia.

Merasalah bahwa Indonesia milik bersama, dan hanya dengan bersama kita akan bisa. Lima jari bahkan sepuluh jari harus kompak, maka seberat apapun beban dan permasalahan bangsa akan bisa ditanggung dan dijawab. 

Nasehat Imam Al-Ghozali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.

Berkata “Jujurlah” Walau Itu Terasa Pahit


Berkatalah yang benar walau itu pahit. Kebenaran tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr. Dalam tulisan kali ini akan diajarkan tiga contoh penerapan bagaimana kita mesti menerapkan kebenaran meski banyak yang berkomentar.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ أَمَرَنِى بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِى أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِى وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِى وَأَمَرَنِى أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَسْأَلَ أَحَداً شَيْئاً وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَخَافَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَأَمَرَنِى أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ
Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang awam yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap ajaran Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membawakan tiga contoh ketika menjelaskan hadits dalam Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.
Contoh pertama:
Meluruskan shaf dalam shalat jama’ah. Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin banyak orang awam yang mengingkari hal ini. Ketika disuruh maju atau mundur sedikit supaya lurus, ada yang mengingkari. Ada pun yang marah gara-gara disuruh meluruskan shaf. Namun meskipun demikian, imam harus tetap mengajarkan ajaran Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam ini pada para jama’ah. Ia harus sabar meladeni mereka yang bersikap tidak baik.
Contoh kedua:
Sebagian jama’ah mengingkari adanya sujud sahwi sesudah salam. Sampai-sampai ada yang menganggap bahwa sujud sahwi sesudah salam adalah ajaran yang baru. Padahal jika ditilik pada hadits, ada yang menyebutkan bahwa sujud sahwi sesudah salam, ada yang menyebutkan sebelum salam. Jika ada penambahan dalam shalat atau ada ragu-ragu tetapi bisa dikuatkan, maka sujud sahwi yang ada adalah sesudah salam.  Tetap imam saat lupa seperti ini melakukan sujud sahwi (sebanyak dua kali sujud) sesudah salam, tidak perlu ia takut akan celaan meskipun itu terasa pahit.
Contoh ketiga:
Sebagian orang merasa aneh jika ada yang mau jujur dalam jual beli. Tatkala si penjual barang menyampaikan ada sesuatu yang aib (cacat) dalam barang dagangan, seperti ini dianggap aneh. Sampai dikata, “Wah itu kan cacat sedikit, yang lain pasti masih senang dengan barang itu.” Padahal seharusnya setiap orang itu bertakwa pada Allah di mana pun, dengan bersikap jujur dalam jual beli. Ia mesti berbuat adil dengan menjelaskan kenyataan cacat yang ada pada barang yang akan dijual. Jika memang sikap jujur seperti ini dianggap aneh, maka sampaikanlah bahwa ajaran seperti ini dari Islam. Sehingga nantinya mereka pun tahu dan bisa menerapkannya. Baca artikel Rumaysho.Com mengenai sikap jujur:
Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang kami bahasakan secara bebas dan ringkaskan dari kitab Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 428-430. Semoga Allah meneguhkan kita selalu di atas kebenaran dan diberi taufik berkata yang benar walau itu pahit.