Selasa, 18 Agustus 2015

INI IDOLAKU, MANA IDOLAMU?


MELUPAKAN idola itu bukan hal mudah. Suatu ketika, saat mengantar anak-anak sekolah,  pandangan mataku merujuk layar besar sebuah produk rokok dan gambar balap mobil.
Gambar itu mengingatkan mantan idolaku yang tewas karena kecelakaan pula ketika balap mobil. Ya, aku  teringat Ayrton Senna! Diantara bintang dunia yang sempat menjadi idolaku adalah Ayrton Senna.. Ya, Ayrton Senna..! Bagiku Senna memiliki kharisma tersendiri.
Ya Allah, seandainya engkau Muslim wahai Senna, tentu aku doakan agar engkau masuk surga Firdaus. Aku sudah terlanjur mencintaimu Senna. Tapi sayang seribu sayang ia mati dalam keadaan masih belum beriman dengan keimanan yang benar.
Sang pembalap legendaris F1 yang tidak asing lagi dan selalu merajai dalam setiap event balap internasional, namun akhirnya tewas pada tahun 1994 lalu di sirkuit San Marino di Imola, Italia, setelah mengalami kecelakaan parah karena menabrak pembatas.
Kala itu, ketika mendengar berita kecelakaan, aku merasakan kesedihan yang cukup mendalam sebagaimana layaknya seorang yang ditinggal mati idolanya!
Senna oh Senna, kau kini tinggal kenangan…
Tapi ini adalah kisah lama tentang idolaku yang semoga tidak terulang kembali selamanya.
Dalam perjalanan selanjutnya, aku berusaha mencari idola yang bermanfaat bagiku untuk urusan duniaku dan akhiratku karena permasalahan idola ini adalah termasuk prinsip yang kita dilarang bermain-main di dalamnya.
Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam “Shahih-nya” meriwayatkan dengan sanadnya melalui sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam seraya berkata:
“Kapan kiamat..?”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam balik bertanya:
“Apa persiapanmu menghadapinya..?”
Orang itu menjawab:
“Tidak ada sesuatupun selain aku mencintai Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam”.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Kamu bersama dengan kekasihmu..!”.
Sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata:
“Kami tidak pernah senang terhadap sesuatu seperti senangnya kami dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Kamu bersama dengan kekasihmu..!”.
Sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata lagi:
“Aku cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, kepada Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap berkumpul bersama mereka karena cintaku kepada mereka walau aku belum beramal seperti amal mereka”.
Subhanallah..!
Sungguh permasalahan memilih idola ini adalah amat sangat prinsip karena masing-masing kita akan dikumpulkan dengan kekasihnya di surga atau neraka.
Tentu kita memilih idola yang menjadikan kita berkumpul dengannya di surga, yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan orang-orang sholeh.
Cinta itu ada buktinya, bukan asal mengatakan di lisan saja!
Bukti seseorang yang menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam sebagai idolanya adalah taat kepada Beliau dalam segala aspek kehidupan, bukan asal cinta di lisan saja..
وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [QS: An-Nisaa’ [4] : 69]
Maka, jangan sekali-kali mengidolakan siapa saja yang menjadikan kita bersamanya di neraka, yaitu orang-orang kafir dan semisalnya.
Seandainya ada orang kafir yang hebat dalam suatu perkara maka kita cukup kagum saja tanpa mencintai ataupun mengidolakannya karena bagaimanapun juga ia adalah orang kafir yang menentang Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan kita dilarang mencintainya.
لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” [QS: Al-Mujadilah [58]: 22]
Nah, hati-hati dan waspadalah memilih kekasih dan idola!

Minggu, 09 Agustus 2015

Hindari Sikap Mencela dalam Mendidik Anak



Dalam sebuah ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan kepada anak akan mengakibatkan penyesalan. Banyaknya celaan dan teguran akan membuat anak semakin berani melakukan tindakan buruk dan hal tercela lainnya.
Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam beliau adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak banyak mencela sikap apapun yang dilakukan oleh anak dan juga tidak banyak melakukan teguran terhadap anak-anak. Tindakan Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam termasuk dalam menanamkan rasa malu dan juga menumbuhkan keutamaan mawas diri, dimana kedua sifat ini sangat berkaitan erat dengan akhlak mulia.
Pendidikan yang sangat berkualitas tinggi dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ini pernah dirasakan oleh Anas r.a yang pernah melayani Rasulullah semenjak kecil. Hal ini bisa tercatat dalam sebuah hadist berikut
“Aku telah melayani Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan: `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’” (Bukhari, Muslim)
Setelah mengetahui hal di atas mungkin ada yang mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah lembut dan banyak toleran pada anak, tentulah mereka akan bertambah berani dalam melakukan pelanggaran dan akan lebih susah dalam membimbingnya lagi”. Untuk hal seperti itu maka tidaklah sebaiknya untuk mencontoh Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dalam mendidik Anas, Ibnu Abbas Zaid Ibnu Haritsah, dan juga puta Usamah Ibnu Zaid, mereka semua diasuh dengan lemah lembut dan hasilnya mereka semua menjadi sahabat dan juga tokoh yang memiliki keluasan ilmu.
Oleh karena itu metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam harus kita contoh tanpa perlu dimodifikasi apalagi dikurangi. Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pernah berinteraksi dengan seorang pemuda yang suka dengan kemaksiatan, suka minum khamr, tetapi pada akhirnya mereka bisa sadar dan kembali kepada jalan yang benar. Mereka mengakui bahwa belum pernah menemui seorang mu’allim (pengajar) yang lebih lembut dan lebih baik cara mengajarnya selain Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam.
Janganlah tergesa-gesa dalam mengambil sebuah keputusan dan tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil tanpa adanya sikap sabar dan telaten. Contohlah Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam yang selalu bersabar dan telaten dalam membesarkan anak-anaknya.
Nasihat dari Al-Ghozali
Al-Imam Al-Ghazali mempunyai nasihat yang sangat berharga untuk para murabbi. Ia mengatakan:
“Jangan Anda banyak mengarahkan anak didik Anda dengan celaan setiap saat, karena sesungguhnya yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya, ia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu bersikap menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak didiknya. Untuk itu, janganlah ia sering mencelanya, kecuali hanya sesekali saja, dan hendaknya sang ibu membantu anaknya hormat pada ayahnya serta membantu sang ayah mencegah sang anak dari melakukan keburukan.” (Ihya `Ulumuddin juz 3).

Hukum Allah Dilanggar, Akhir Zaman pun


DEWASA ini sering kita saksikan bagaimana berbagai kasus hukum yang diberitakan di banyak media telah mengambil perhatian publik. Kasus-kasus hukum ini selalu menjadi bahan pemberitaan karena terus di bulak-balik dan bergulir tak henti-hentinya.
Terkadang kita lihat bagaimana terdakwa yang terus memohon pertimbangan hakim akhirnya bisa lolos dari kasusnya, atau dia mendapat hukuman berlapis, dan terkadang di akhir kasus malah muncul tersangka baru yang membuat kita menjadi bingung.
Berbicara mengenai hukum, Sesungguhnya Islam juga memiliki sistem hukum sendiri. Hukum di sini bukan sekadar hukum waris atau hukum talak, tetapi juga hukum perdata dan pidana. Betapa fakta ini bisa menjadi indikator bagaimana Islam merupakan agama yang teratur dan terarah. Namun saat ini, banyak diantara kaum Muslimin yang tidak mengetahui adanya perkara yang demikian itu. Sebabnya, memanglah hukum-hukum ini tidak dipergunakan lagi di sebagian besar negara-negara Islam. Padahal, mengambil keputusan hukum berdasarkan aturan yang ditetapkan Allah SWT adalah salah satu kewajiban utama. Allah SWT berfirman,
“Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)
Di Akhir Zaman, tali-tali pengikat Islam akan terlepas satu per satu. Tali yang pertama kali akan terlepas adalah hukum Allah SWT.
Umamah al-Bahili RA meriwayatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tali-tali pengikat Islam ini akan terlepas satu per satu. Setiap kali satu tali terlepas , manusia akan berpegang pada tali berikutnya. Yang pertama akan terlepas adalah hukum Allah yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad dan at-Thabrani. Perawi Hadits ini adalah perawi as-Shahih)
Tanda ini sekarang sudah terlihat di sebagian besar negeri Islam. Mereka sudah tidak lagi berpegang pada hukum Islam kecuali pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dengan pernikahan, talak, waris dan semisalnya. Dalam persoalan jual-beli, hukum pidana dan hukum perdata, mereka berpatokan pada hukum Perancis, Inggris, dan hukum-hukum positif lainnya. Inilah maksud tidak berhukum dengan Allah SWT.
“Dan, (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Menghapus Dosa, Menambah Derajat


SHALAT menjadi tidak sah apabila kita melaksanakannya dalam keadaan berhadats. Untuk itu, Allah SWT mensyariatkan kita untuk bersuci sebelumnya dengan mandi janabat apabila kita dalam keadaan berhadats besar, dan berwudhu apabila kita berhadts kecil.
Mengenai wudhu, Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw berkata, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah SWT akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah ”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam keadaan tidak disukai (seperti cuaca sangat dingin), memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat, dan itulah ribath.” (HR. Muslim)
Yang dimaksud ar-ribath (ikatan) adalah karena amalan-amalan itu mengikat yang bersangkutan dari berbagai kemaksiatan dan dosa. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa selalu ingat tali yang melingkar di leher musuh, karena ingin mendapatkan syahid dan ampunan Allah SWT. Wallahu A’lam.
Dari Utsman bin Affan ra, dia berwudhu lalu berkata,”Aku melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini lalu bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu shalat dua rakaat tanpa berbicara sesuatu terhadap diri sendiri dalam dua rakaat itu maka akan diampuni dosanya yang telah lalu’.” (HR. Muslim)
Uqbah bin ‘Amir ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang berwudhu lalu membaguskan wudhunya dan shalat dua rakaat, hati dan wajahnya khusyu’ pada dua rakaat itu kecuali wajib baginya surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Diriwaytakan Thabrani dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba menjaga shalat, menyempurnakan wudhunya, rukuknya, sujudnya, dan bacaannya, maka shalat akan berkata padanya, ‘Semoga Allah SWT menjagamu sebagaiman kamu menjagaku’, dia naik denganya ke langit dan memiliki cahaya hingga sampai kepada Allah SWT dan shalat memberi syafaat kepadanya.”
Hadits di atas menjelaskan kepada kita orang yang rajin berwudhu itu akan diangkat derajatnya hingga ke langit dan bisa menjadi pelindung dirinya dari siksa neraka.

Zakir Naik : Kitab Suci Seluruh Agama Gagal Diuji, Kecuali Al-Qur’an. Allahu Akbar.


Pertanyaan : Masing-masing agama yang ada sekarang ini mengklaim ilmiah terhadap masing-masing agamanya. Seperti Sri Ravi Shangkar mengklaim ilmiah terhadap agama hindunya. Baba Ramdev dengan agamanya. Dan juga tokoh-tokoh agama kristen mengklaim agamanya sangat ilmiah. Begitu juga dalam islam, bagaimana anda menjawab pertanyaan ini?

Dr.Zakir Naik menjawab :
Anda sering mendengar kata “Ilmiah” dari saya, Sedangkan Baba Ramdev juga mengatakan bahwa agamanya Ilmiah. Sri Ravi Shangkar juga mengklaim agamanya ilmiah. Bukankah ini membuktikan teori Agama tidak lebih hebat dari penelitian Sains? (karena semuanya bersandar kebenarannya pada teori sains).
Tentang itu, saya setengah setuju dan setengah lagi tidak setuju denganmu. Jika kamu mengklaim sebuah ajaran sebagai firman Tuhan, maka ajaran itu harus bisa teruji disetiap masa dan waktu.
Sebelum ini adalah zamannya mukjizat. Dan Al-Qur’an adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kemudian datanglah zaman puisi dan literatur. Cendekiawan muslim dan non muslim dari kalangan Arab setuju bahwa Qur’an adalah literatur bahasa Arab terbaik di muka Bumi.
Namun, zaman sekarang adalah zamannya sains. Jika kau menganalisis Al-Qur’an dengan sains, maka kitab ini begitu sempurna. Tapi dimasa mendatang, bisa jadi orang-orang tidak lagi percaya pada sains.
Jika di zaman sekarang aku memberitahumu, “Sebuah kitab suci bercerita secara puitis bahwa bumi itu datar”, apakah kamu akan percaya? Pasti tidak percaya. Karena zamannya sekarang bukanlah zamannya para penyair. Namun kamu bisa dapati bahwa Al-Qur’an itu sangat puitis, penuh dengan mukjizat, dan Ilmu Sains yang sangat ilmiah. Di masa depan mungkin zamannya beda lagi.
Untuk menjawab pertanyaan kamu. Kamu katakan bahwa Baba Ramdev berkata agamanya ilmiah. Kuceritakan, bahwa aku pernah berdebat dengan dokter William Cambell, seorang dokter medis bergelar M.D. (Doktor). Ia berkata bahwa Bible itu ilmiah. Aku bukanlah orang yang suka mengkritik ajaran agama orang lain. Tapi, Dr.dr.William Cambell menulis sebuah buku mengatakan bahwa ada lebih dari 30 kesalahan ilmiah dalam Al-Qur’an. Buku ini juga sangat populer, tapi tidak ada responnya.
Sebab itu, aku pergi ke Chicago pada 1 April tahun 2000 untuk melakukan diskusi dengan Dr. William Campbell tentang “Qur’an and Bible in the Light Of Science”. Dalam diskusi itu saya telah menjawab semua tuduhannya. Tapi ketika aku menunjukkan 38 kesalahan ilmiah dalam Bible, sebenarnya ada lebih dari ribuan kesalahan ilmiah dalam Bibel. Aku hanya menunjukkan 38 kesalahan, tapi dia tidak bisa menjawab satupun darinya. Jadi ketika kita berdebat kita akan tahu seberapa ilmiahkah sebuah agama. Hanya karena Bibel mengatakan 10 hal ilmiah, hai ini tidak menjadikan Kitab Bibel itu benar (firman Tuhan).
Kita harus menganalisa semuanya, jika didapati satu hal yang tidak ilmiah didalamnya, maka itu sudah menjadi cukup bukti bahwa Bibel bukanlah firman Tuhan.
Aku menantang semua orang, untuk menunjukkan satu hal saja yang tidak ilmiah dalam Al-Qur’an, berupa fakta ilmiah, bukan hipotesis. Satu ayat saja dalam Al-Qur’an yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan sudah menjadi fakta.
Aku telah banyak menjelaskan hal-hal yang tidak ilmiah dalam Bible. Dan juga aku bisa jelaskan banyak hal yang tidak ilmiah dalam Wedha. Lalu aku tantang seluruh tokoh-tokoh agama, seperti Dr.dr.Willliam Campbell, Benny Hinn, Billy Graham agar meraka datang dan membuktikan bahwa yang aku katakan salah.
Sebagai contoh saja, Wedha berkata bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Tentu ini tidak sesuai dengan fakta ilmiah sekarang. Ini membuktikan bahwa dalam kitab Wedha memang ditemukan ayat yang membicarakan tentang Sains. Jika ada ribuan ayat dalam kitab itu, 50 persennya membicarakan sains dan 50 persen lagi darinya bertentangan dengan fakta ilmiah sains, maka aku tidak akan percaya pada kebenaran kitab suci itu.
Jadi ketika anda melakukan uji ilmiah terhadap semua kitab agama yang ada, maka kamu akan mendapatkan seluruh kitab agama itu gagal kecuali Al-Qur’an.
Aku yang mengatakan itu, karena aku adalah akademisi dalam bidang perbandingan ilmu agama. Jadi, ketika anda melakukan uji sains, hal itu tidak berarti kitab lain tidak punya fakta ilmiah. Mereka juga punya!. Tapi itu telah tercampur. Seperti yang kukatakan, Bibel mungkin juga punya fakta ilmiah. Ayat-ayat di Bibel yang sesuai dengan sains mungkin adalah firman Tuhan, tapi yang tidak sesuai dengan fakta sains, mungkin juga karena kesalahan, interpolasi atau ayat yang dipalsukan.
Allah berfirman : … Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”. Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), … ( Qs. Ar-Ro’du : 38 – 39)
Ada 4 kitab suci yang disebut dalam Al-Qur’an. Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Taurat adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Injil adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Zabur adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Daud. Sedangkan Al-Qur’an, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Tapi, sebenarnya ada banyak sekali wahyu yang diturunkan sebelum 4 kitab suci itu diturunkan.
Karena sangat banyak sekali jumlah Nabi yang berjumlah 124 ribu Nabi, dan 25 diantaranya disebutkan dalam Al-Qur’an nama-namanya.
Namun semua wahyu yang datang sebelum Al-Qur’an hanya diperuntukkan untuk kaum tertentu pada saat itu. Seperti Injil, kitab suci yang hanya diperuntukkan untuk Bani Israil dan tidak diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Makanya Tuhan tidak menjaganya sampai ke zaman sekarang. Begitu juga dengan kitab-kitab yang lain selain Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an diturunkan bukan untuk orang arab saja, tapi untuk seluruh umat manusia dimana saja mereka berada.
Sebagaimana diberitahukan Allah dalam firman-Nya :
Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui.[QS. Saba’, 34: 28]
Karena Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia selama-lamanya, maka Tuhan pun selalu menjaga keasliannya. Sebab itu kita semua tidak akan mendapatkan sedikitpun kesalahan dalam Al-Qur’an. Namun, kitab-kitab suci lain bisa jadi benar firman Tuhan, namun telah diubah-ubah oleh manusia. Karena kitab-kitab itu tidak diperuntukan kepada seluruh manusia, maka Allah tidak menjaganya.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
(Qs: Al-Hijr: 9)
Inilah perbedaan mendasar Al-Qur’an dengan kitab-kitab lain. Ketahuilah bahwa seluruh nabi-nabi sebelum diutusnya Nabi Muhammad, seperti, Adam, Yesus, Musa, Ibrahim dan yang lainnya, mereka diutus hanya untuk kaummnya pada saat itu saja. Karena kami tetap menghormati dan mencintai mereka. Karena kita hidup di zaman Nabi Muhammad, maka kita harus mengikutinya. Sebab ia adalah penutup para Nabi dengan wahyu yang terakhir yaitu Al-Qur’an.
Jadi Al-Qur’an lah yang patut dibanggakan bukan sains/teknologi. Karena Al-Qur’an lebih dulu ada sebelum fakta sains dan teknologi diciptakan.
Al-Qur’an adalah kitab penuh dengan mukjizat, literatur bahasa arab terbaik dan sesuai dengan sains. Mungkin dimasa depan zamannya berbeda lagi. Tidak seperti sekarang yang seakan kebenaran selalu diukur dengan sains dan teknologi. Tapi bagaimanapun kondisi masa depan, maka Al-Qur’an sebagai firman Tuhan akan membuktikan kebenaran dirinya.

Jumat, 08 Mei 2015

Kapan Kita Ajarkan Membaca (Al-Qur’an)?


“MARILAH kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.
Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.
Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an.
Pertama, memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untukmenghafal (memorizing) di kemudian hari.
Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar.
Ketiga, mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).
Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan.
Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca.
Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.
Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama, pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifat reciting aloud maupun reading aloud.
Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.
Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dantafrith

Mungkinkah Anak Berbohong?


Banyak penulis dalam berbagai buku mereka yang membahas tentang fitrah seorang anak yang cenderung pada kebaikan karena pada dasarnya anak itu memiliki kebaikan dalam diri mereka. Bahkan ada orang tua yang mengatakan bahwa dunia anak itu adalah dunia kepolosan dan apa adanya. pertanyaannya sekarang mungkinkah seorang anak itu berbohong?. Beranjak dari berbagai pengalaman sehari-hari sebagai seorang guru dan saudara dari adik-adik saya, jawaban saya “Anak mungkin saja berbohong”.
Jika anda adalah tipe orang tua yang selalu percaya dan mengatakan benar apa yang selalu anak katakan saya sarankan mulai saat ini anda jangan mudah percaya begitu saja apa yang dikatakan anak. Ini bukan berarti saya menyuruh anda tidak mempercayai anak anda namun agar anda lebih teliti dengan kecerdasan yang dimiliki anak-anak. Banyak anak yang dunia mereka sangat polos dan berkata biasanya apa adanya namun ada beberapa anak yang sangat luar biasa yang memiliki kecerdasan yang tidak biasa yaitu linguistik (Berbahasa) dan kecerdasan memanifulasi fakta. Bila kecerdasan berbahasa dan memanifulasi fakta ini ada dalam diri anak akan muncul sebuah tindakan baru, merupakan hal yang positif jika orang tua dan guru mampu bersinergi dalam mengarahkannya.
Sebagai seorang guru saya memiliki pengalaman yang terkadang mengejutkan. Ada anak yang memilih sikap saat di rumah dan saat mereka berada disekolah, ketika mereka berada di rumah anak begitu polos dan disiplin namun ketika mereka berada jauh dari rumah, mungkin saat anak di sekolah sebuah kejadian yang tidak terduga terjadi anak yang saat di rumah begitu polos berubah menjadi tidak terkendali ini adalah sebuah tindakan anak dalam menentukkan sikap mereka. Hal ini terjadi mungkin disebabkan keadaan anak saat di rumah sangat terkekang oleh banyaknya aturan orang tua , dan anak tidak memiliki pilihan lain selain taat pada peraturan atau menerima konsekuensi berupa hukuman dari orang tuanya, namun saat anak jauh dari pantauan orang tua anak mulai memilih sikap (membebaskan diri dari segala aturan rumah), anak mulai tidak menaati praturan, tidak disiplin dan berbagai kejadian lainnya. ini juga terjadi karena anak menentukkan sikap.
Maka sebagai orang tua dan sekaligus seorang guru hendaknya kita tidak mudah menerima tindakan dan ucapan anak karena tidak semua anak memiliki dunia yang polos, ada kalanya mereka mampu menentukkan sikap bahkan memanipulasi keadaan yang menguntungkan dirinya. Banyak anak yang mencari zona aman dengan cara memanipulasi atau berohong terhadap apa yang terjadi sebenarnya hanya untuk melindungi diri mereka dari ancaman orang tua atau guru mereka.
Berbohong adalah suatu perbuatan yang disengaja atau tidak, perbuatan ini dilakukan untuk menipu orang lain utnuk mendapatkan hal yang positif dan menghindar dari hal yang negatif. Menurut C. Drew Edward, Ph.D seorang pakar Psikologi Anak, dalam bukunya “Ketika Anak Sulit diatur” menyebutkan alasan seorang anak berbohong sama dengan alasan orang dewasa yaitu untuk menghindari konsekuensi atas prilaku mereka karena mereka malu mengakui kejadian yang sebenarnya, atau untuk menghindari hal-hal yang memalukan atau penolakan terhadap dirinya. Anak juga bisa berbohong hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya atau anak berbohong saat orang tua dan guru marah kepadanya.