Kamis, 23 April 2015

Siapakah Yang Pertama kali Menuliskan Harokat dan Titik pada Mushaf Al Quran?


Al Quran itu secara keseluruhan tertulis pada masa Nabi Muhammad SAW, akan tetapi tidak terkumpul dalam satu tempat dan tidak tersusun secara urut surat suratnya dalam satu mushaf. Ketauhilah bahwa tersusunnya Al-Quran dan masa turunnya adalah pada masa kenabian, dan semuanya langsung di bimbing dengan wahyu Allah.

Dalam kitab sejarah yang shahih, pengumpulan lembaran lembaran di lakukan pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan beliaulah yang menamai tulisan tulisan itu dengan Mushaf. keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abi Syaibah.

Dalam riwayat yang di bawakan imam Bukhari dan At Tirmidzi, Zaid bin Tsabit menceritakan dengan panjang, dimana Kholifah Abu Bakar Sidiq memerintahkannya untuk mengumpulkan Al Quran.

Abu Bakar berkata “Umar menemuiku dan berkata, Korban perang meluas pada hari Yamamah-yakni pada perang melawan Musailamah-hingga menimpa para penghafal Al Quran. Aku kwatir dengan meninggalnya banyak penghafal Alquran di berbagai medan pertempuran, maka hilang pula banyak ayat Al Quran. Aku berpendapat, sebaiknya engkau mengumpulkan Al Quran”

Setelah Zaid bin Tsabit menyelesaikan tugasnya, Mushaf itu berada pada Kholifah Abu Bakar hingga Allah mewafatkanya. Kemudian di bawa Umar bin Khotob sampai Allah mewafatkanya, lalu di bawa oleh Hafshah binti Umar, demikian Imam Bukhari mengabadikan dalam sebuah riwayat dalam kitabnya.

Kemudian pada masa Utsman bin Affan, Hudzaifah Ibnu Yaman mengusulkan untuk menyelamatkan umat islam dari perselisihan dalam masalah Kitab, karena saat itu Hudzaifah melihat banyak umat yang berbangga bangga dengan setiap bacaannya dan merasa paling bagus.

Maka Utsman bin Affan memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdurahman bin Harist bin Hisyam untuk menyalinnya pada sejumlah mushaf.
Berkata Utsman bin Affan “ Apabila kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit dalam satu bagian dari Al Quran maka tulislah itu dengan bahasa Quraisy, karena Al Quran itu hanyalah di turunkan dengan bahasa mereka” demikian Imam Bukhari mengkisahkan.

Orang yang Pertama Kali Menuliskan Harokat dan Titik Pada Mushaf!

Ketauhilah bahwa keadaan mushaf Ustmani dahulu huruf hurufnya tidak bertitik, tidak berharokat dan tiada I’rabnya. Sebab ditinggalkanya i’rab saat itu-menurut pendapat ulama, karena mereka tidak membutuhkan i’rab pada masa pemerintahan Ustman. Mengapa?

Kerena mereka semuanya adalah orang orang Arab, mereka tidak mengenal salah baca dan tidak ada ilmu nahwu pada zaman mereka. Orang yang pertama kali menetabkan nahwu dan menyususn I’rab dalam mushaf adalah Abul Aswad Ad Dua’ali, seorang tabiin dari Basrah.

Di kisahkan bahwa dia mendengar seseorang membaca “أَنَّ ٱللَّهَ بَرِىٓءٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُۥ ۚ

Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang orang musrik dan dari Rasulnya (dengan huruf lam pada lafal Rasul berharokat kasrah) yang di maksudkan adalah QS At Taubah ayat 3. maka Abul Aswad memandang bahwa itu adalah kesalahan yang amat besar.
Dia berkata “ maha Mulia wajah Allah Taala dari berlepas diri dari Rasulnya” kemudian dia menetapkan I’rab pada Mushaf.

Tanda I’rab itu berupa titik dengan warna merah yang berbeda dengan warna tinta yang termaktub dalam mushaf. Tanda fathah adalah titik di atas huruf.Tanda dhammah adalah titik di depan huruf.Sedang tanda kasrah adalah titik dibawah huruf. Tanda ghunnah adalah dua titik.

Selanjutanya Al Khail bin Ahmad Al Farahidi membuat bentuk bentuk tanda huruf: Syaddad (tasdid) ,mad,hamzah,serta tanda sukun dan tanda washal (teruskan bacaan) sesudah itu. kemudian I’rab berubah dari bentuk titik menjadi bentuk seperti yang ada sekarang ini.

Orang yang pertama kali meletakan titik (pada huruf) dalam mushaf adalah Nashr bin Ashim Al Laittsi, di bawah perintah Al Hajaj bin Yusuf, Sang Gubernur Irak dan Khurasan.Dia memerintahkan untuk meletakan tanda pada huruf huruf yang serupa, dan selanjutanya di laksanakan oleh Nashr bin Ashim Al Laitsi
Dia menuliskan titik, baik tunggal maupun berpasangan lantas membeda bedakan posisinya. Dialah orang pertama yag mengadakan titik pada huruf ya’ da ta’.Mereka berkata “itu tidak mengapa, karena itu adalah cahaya baginya” Selanjutnya mereka juga mengadakan titik pada akhir ayat, lantas mereka membuat berbagai pembukaan dan penutupan.

Dengan demikian, Abul Aswad adalah orang pertama yang menentukan I’rab, kemudian Nashr bin Ashim adalah orang yang memberikan titik sesudahnya,lantas Al Khalil bin Ahmad adalah orang yang memindahkan I’rab menjadi bentuk seperti sekarang ini.

Adapun penetapan persepuluh (sepersepuluh juz) diriwayatkan bahwa Khalifah Al Makmun dari dinasti Bani Abbasiyah memerintahkan hal itu. di katakana pula bahwa Al Hajjaj yang melakukanya. Di riwayatkan juga bahwa Al Quran itu di bagi pada zaman Al Hajaj menjadi tiga puluh juz.
Demikian kami tuliskan bersumber dari kitab Mausuah Al Illaj bil Quran Wa Al Adzkar karya syaikh Sya’ban Ahmad Shalih. Dengan sedikit pengolahan .semoga bermanfaat. 

Rabu, 15 April 2015

Malah Kebalik dengan Zaman Umar bin Khattab


APAKAH kita mengenal dengan baik nama-nama di bawah ini?
1. Abu Bakar Siddiq radhiallahu ‘anhu
2. Umar Bin Khatab radhiallahu ‘anhu
3. Usman Bin Affan radhiallahu ‘anhu
4. Ali Bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu
5. Thalhah Bin Abdullah radhiallahu ‘anhu
6. Zubair Bin Awaam
7. Sa’ad bin Abi Waqqas radhiallahu ‘anhu
8. Sa’id Bin Zaid radhiallahu ‘anhu
9. Abdurrahman Bin Auf radhiallahu ‘anhu
10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah radhiallahu ‘anhu
Atau beberapa nama di bawah ini :
1.Khadijah Binti Khuwailid radhiallahu ‘anha
2. Saudah Binti Zam’ah radhiallahu ‘anha
3. Aisyah Binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha
4. Hafshah Binti Umar radhiallahu ‘anha
5. Zainab Binti Khuzaimah radhiallahu ‘anha
6. Hindun binti Hudzaifa (Ummu Salamah) radhiallahu ‘anha
7. Zainab Binti Jahsy radhiallahu ‘anha
8.Juwairiyah Binti Al-Harits radhiallahu ‘anha
9.Ramlah Binti Abu Sufyan radhiallahu ‘anha
10. Shafiyyah Binti Huyay radhiallahu ‘anha
11. Maimunah Binti Al-Harits radhiallahu ‘anha
12. Fatimah Binti Rasulullah radhiallahu ‘anha
13. Asma’ Binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha
Barangkali banyak dari kita hanya tahu sedikit saja tentang mereka, bahkan ada dari kita yang sama sekali kita tak tahu apa-apa tentang mereka.
Jadi wajarlah, kalau kemudian kita lebih memilih mengambil inspirasi dan figur teladan ataupun menempatkan panutan orang -orang dari kalangan artis lokal maupun luar, motivator, atlit olahraga, hingga tokoh-tokoh non muslim dan sebagainya
Karena, kebanyakan kita tak kenal generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Kita malas mencari tau tentang mereka, manusia-manusia yang sarat dengan taqwa, karena senantiasa terpupuk dengan Al Quran dan As-Sunnah.
Bukan hanya itu, pengorbanan dan kegigihan mereka dalam membela akidahnya, mengorbankan segala yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan tidak jerih dengan kezhaliman, siksaan, dan kematian yang harus dihadapi.
Mengapa bukan manusia-manusia terbaik tersebut yang kita jadi insipirasi kita? Agar kualitas beragama kita minimal bisa meningkat?
Mengapa memilih artis baru hijrah yang notabene cara berhijabnya pun masih belum sempurna dan cenderung tabarruj?
Tapi, kemudian kita selalu berdalih jangan lihat penampilannya tapi lihat hal-hal baik dari dirinya. Maka, berkaitan dengan soal penampilan itu saya meminjam nasehat seorang ustadz :
Kita sepertinya meninggalkan kalam Umar yang terkenal itu; “Saat ini wahyu telah terputus,maka kami akan menghukumi orang-orang sesuai zhohirnya adapun bathin-nya kami serahkan kepada Allah.”
Kita malah kebalik.
“Kita hukumi bathinnya berdasarkan praduga dan zhohirnya diserahkan pada Allah.”
Saya ikut Umar bin khatab saja lah.
Kalau selalu kata-kata abaikan penampilannya dipakai beralasan, maka apa gunanya yang penampilan yang berjanggut, bercelana cingkrang atau berhijab syar’i? Toh, yang penting ambil saja yang baik-baik saja.
Patutlah inspirator pilihan kita, sering jauh dari kesan Islami

Senin, 13 April 2015

Adab Muslim Setelah Terbangun dari Tidur

Wujud mencintai NabiShallallahu alaihi wa sallamadalah berusaha melestarikan ajaran beliau di setiap keadaan. 

Untuk itu, para ulama menekankan, sebisa mungkin setiap muslim menyesuaikan diri dengan sunah beliau dalam setiap aktivitasnya, 24 jam sesuai sunah, mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Seperti inilah yang pernah dipesankan Sufyan at-Tsauri ulama Tabi Tabiin w. 161 H ,

"Jika kamu mampu tidak menggaruk kepala kecuali ada dalilnya, lakukanlah. (al-Jami li Akhlak ar-Rawi, 1/142).

Berikut kami sajikan beberapa sunah NabiShallallahu alaihi wa sallamketika bangun tidur,

Pertama, mengusap bekas tidur di wajah

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu menceritakan, bahwa beliau pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah Radhiyallahu anha, saah satu istri NabiShallallahu alaihi wa sallam. Kata Ibnu Abbas,"Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, RasulullahShallallahu alaihi wa sallambangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya. (HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya).

Kedua, membaca doa ketika bangun tidur

Diantara bacaan yang beliau rutinkan ketika bagun tidur,"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami akan dibangkitkan."

Ada beberapa sahabat yang menceritakan kebiasaan ini. Diantaranya Hudzaifah bin al-Yaman dan al-Barra bin Azib. Kedua sahabat ini menceritakan doa yang biasa dibaca Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak tidur dan bangun tidur,

Bahwa NabiShallallahu alaihi wa sallamketika bangun tidur beliau membaca: Alhamdulillah alladzi ahyaanaadst. (HR. Bukhari 6312, Muslim 2711, dan yang lainnya).

Ketiga, membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran,

Tepatnya mulai ayat,"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."

Ibnu Abbas menceritakan pengalaman beliau ketika menginap di rumah bibinya Maimunah,

"Beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya, kemudian beliau membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran. (HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya).

Keempat, gosok gigi

Sahabat HudzaifahRadhiallahu anhumenceritakan,NabiShollallahualaihi wassalamapabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak. (HR. Bukhari 245 dan Muslim 255)

Ada banyak manfaat ketika orang melakukan gosok gigi ketika bangun tidur. Terutama mereka yang hendak shalat. Disamping menyegarkan, gosok gigi menghilangkan bau mulut sehingga tidak mengganggu Malaikat yang turut hadir ketika dia shalat malam.

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu menceritakan, "Kami diperintahkan (oleh Rasulullah) untuk bersiwak, kemudian beliau bersabda,"Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak mendirikan shalat datanglah malaikat padanya. Kemudian malaikat itu berdiri di belakangnya, mendengarkan bacaan Al-Qurannya, dan semakin mendekat padanya. Tidaklah dia berhenti dan mendekat sampai dia meletakkan mulutnya pada mulut hamba tadi. Tidaklah hamba tersebut membaca suatu ayat kecuali ayat tersebut masuk ke perut malaikat itu." (HR. Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 1/38 dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah).

Kelima, membersihkan hidung

Memasukkan air ke dalam hidung dengan cara disedot dalam bahasa arab disebut istinsyaq dan mengeluarkannya disebut istintsar.

Setelah bangun tidur, kita dianjurkan melakukan semacam ini 3 kali, untuk membersihakn rongga hidung. Karena ketika manusia tidur, setan menginap di lubang hidungnya. Dari mana kita tahu? Tentu saja informasi dari NabiShallallahu alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, RasulullahShallallahu alaihi wa sallambersabda,

"Apabila kalian bangun tidur maka bersihkan bagian dalam hidung tiga kali karena setan bermalam di rongga hidungnya." (HR. Bukhari 3295 dan Muslim 238)

Keenam, mencuci kedua tangan 3 kali

Dari Abu Hurairoh Radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahualaihi wassalam berpesan,

"Apabila kalian bangun tidur maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam wadah, sebelum dia mencucinya 3 kali, karena dia tidak mengetahui dimana tangannya semalam berada." (HR. Bukhari dan Muslim 278) 

Duh, Anak Ini Curi Uang Kakeknya untuk Traktir Teman Sekelas


PENDIDIKAN moral bagi anak sangatlah penting untuk diterapkan. Zaman sudah semakin tua, penyimpangan sudah semakin marak. Jika anak tak di arahkan dengan baik oleh orang tua. bisa-bisa jadi salah kaprah, seperti kasus berikut.
Polisi di Ohio Sgt. Brett McNabb mengatakan seorang siswa sekolah menengah didapati telah mencuri uang kakeknya sejumlah 25.000 USD. Dari uang tersebut ia gunakan 100-an USD untuk mentraktir teman sekelasnya sepanjang pekan.
Penyidik mengatakan sudah menarik kembali uang sejumlah 7000 USD, sisanya masih belum diketahui digunakan untuk apa saja selain mentraktir teman-temannya.
Dilansir Upi.com pada hari Senin (13/4/2015), siswa berusia 13 tahun ini mencuri uang dari kakeknya yang berusia 83 tahun ketika tengah beerkunjung selama liburan musim semi.
“Selain teman sekelasnya, beberapa orang dewasa juga sedang diselidiki dalam insiden ini,” kata McNabb.
Sebagai orang tua muslim, mari kita tanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak kita. Mengingatkan bahwa berhura-hura bukanlah tindakan terpuji.

Kejujuran Membawa Kebajikan


JUJUR adalah salah satu hal yang paling mudah untuk kita ucapkan dan paling sulit pula untuk kita laksanakan. Pasalnya, dalam bersikap jujur terkadang ada suatu hal yang memang tidak enak untuk kita ungkapkan. Sehingga, berbohonglah yang menjadi jalan pintas bagi kita untuk menyembunyikan hal-hal yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Padahal, kejujuran ini memiliki efek yang sangat baik bagi kita. Dengan melakukan jujur, maka diri kita akan terbawa pada kebajikan.
Dalam hadis riwayat ‘Abdullah ibn Mas’ud RA tentang Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur, ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan mengiring ke naraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang pendusta,” (Shahih al-Bukhari hadis no. 5629).
Jelaslah dalam hadis tersebut, yang mengatakan bahwa jujur itu akan membawa pada kebajikan. Dan jika kebajika telah kita lakukan maka Allah akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Subhallah.
Itulah manfaat terbesar dalam bersikap jujur. Walau memang cukup sulit untuk kita lakukan, namun ternyata efeknya pun sangat baik untuk kita dapatkan. Hanya segelintir orang saja yang mampu melakukan hal ini, dan tetap istiqamah untuk berbuat jujur. Nah, apakah kita termasuk di dalamnya?
Kita dapat tergolong sebagai orang-orang yang jujur dalam catatan Allah, jika kita benar-benar melakukan hal itu. Jujur berarti mengatakan apa yang semestinya, walau itu terasa pahit. Ungkapkanlah sesuai dengan kenyataan, dengan tidak melebihkan atau menguranginya. Dengan begitu, secara tidak langsung kita pun akan terlatih untuk bersikap baik, yang selalu menempatkan sesuatu sesuai dengan posisinya. Wallahu ‘alam

Selasa, 07 April 2015

PROGRESS PEMBANGUNAN KELAS BARU SMP IT DARUL FIKRI BAWEN

Kurang lebih dua bulan proses pembangunan kelas baru Pesantren Tahfidz SMP IT Darul Fikri Bawen, dan sampai awal April 2015 sedang tahap penyelesaian lantai satu. Kondisi hujan yang masih cukup tinggi intensitasnya tidak mengganggu proses pembangunan yang direncanakan telah siap untuk dipergunakan pada tahun ajaran baru 2015/2016.

Bulan April ini ditargetkan sudah bisa dilakukan pengecoran untuk lantai satu sehingga para pekerja diminta untuk bisa lebih memaksimalkan kerjanya.

PROGRAM WAKAF GEDUNG DAN WAKAF TANAH
PENGEMBANGAN PESANTREN TAHFIDZ+YATIM SMPIT DARUL FIKRI BAWEN SEMARANG JAWA TENGAH

Bagi kaum muslimin yang berniat untuk berkontribusi dalam mendidik para yatim dan para penghafal Qur'an bisa mengalokasikan maal bagi pengembangan pesantren yang sekarang sedang membangun 4 ruang kelas baru dan membebaskan tanah di sebelahnya.

Wakaf bisa langsung ditransfer ke rekening BRI atas nama SMP IT Darul Fikri Bawen 609201007767533 dan konfirmasi ke 081325541470.


Semoga peran serta kaum muslimin semua bisa menyumbang bagi penyiapan generasi Qur'ani yang berkualitas. aamiin

Minggu, 05 April 2015

Wahai Penuntut Ilmu, Carilah Harta dan Menabunglah Agar Mandiri


Imam Ibnul Jauziy berkata: “Saya pernah menghadiri jamuan orang-orang kaya. Bagi mereka, para ulama adalah kalangan yang paling hina. Ulama-ulama itu menjadi hina karena berada di tengah orang kaya untuk mengharapkan sesuatu dari mereka. Orang-orang kaya itu pun tak menghormatinya karena mereka tahu bahwa para ulama itu banyak menggantungkan nasib mereka padanya. Saya melihat adanya kekeliruan di kedua pihak tersebut.
Bagi pemilik harta, mereka tercela karena tidak menghormati ilmu dan pemiliknya. Hal ini disebabkan kebodohan mereka akan arti ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, mereka lebih mengutamakan mencari harta. Sangatlah tidak pantas jika seseorang menuntut mereka menghormati apa yang tidak mereka ketahui nilai dan maknanya. Adapun cela yang dimiliki para ulama dikarenakan mereka tidak menjaga kehormatan diri yang dihiasi ilmu yang luas. Mereka pun terjungkal dalam kehinaan, karena kemiskinan harta membuat mereka meminta-minta kepada orang kaya.
Andai para ulama mapan ekonominya, tidak membutuhkan, dan tidak bergantung pada orang kaya, pastilah mereka yang kaya itu berada di bawah derajat para ulama dan akan diharamkan bagi ulama menengadahkan tangan kepada mereka. Masalahnya, jika para ulama itu sudah merasa berkecukupan, kenapa mereka tidak mengutamakan kebersihan hati dan jiwa? dan masih saja meminta-minta hanya untuk mendapatkan hal yang sifatnya fana?
Saya pun merasakan sulitnya jiwa untuk bersikap sabar dan puas dengan sedikit yang ada serta untuk tidak menuntut hal-hal yang berlebih. Kalaupun jiwa itu bisa bersabar, sifatnya hanyalah sementara dan tidak mungkin baginya bersabar sepanjang waktu.
Yang lebih utama bagi seseorang yang berilmu adalah -selain menuntut ilmu- juga mencari harta kekayaan dan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkannya, meskipun mungkin ia akan kehilangan sebagian besar waktunya untuk menuntut ilmu. Hal itu akan sangat berguna membentengi kehormatannya.
Said bin al-Musayyab berdagang minyak dan meninggalkan untuk keluarganya sejumlah harta saat dia meninggal dunia. Begitu juga Sufyan ats-Tsauri telah mewariskan harta yang demikian banyak. Suatu saat dia berkata, “Andai bukan karena harta, pastilah orang-orang kaya akan menghinaku”.
Saya menyarankan kepada penuntut ilmu untuk tetap mencari harta, karena saya yakin bahwa jiwa manusia tak selalu tabah untuk bertahan dengan kesederhanaan dan tidak selalu siap untuk berlaku zuhud. Betapa banyaknya orang yang kuat keinginannya untuk menggapai akhirat, kemudian mengeluarkan seluruh (harta) miliknya yang ada di tangannya. Ketika mereka lemah, akhirnya mencari harta dengan jalan yang sangat memprihatinkan.
Yang terpuji adalah jika seseorang menyimpan harta atau menabung dan tidak menggantungkan nasibnya pada manusia.  Hal itu perlu untuk menghindarkannya dari ketamakan dan ia pun bisa memurnikan pengabdian keilmuannya tanpa dirasuki kepentingan-kepentingan pribadi. Mereka mengumpulkan bekal untuk hidup dengan cara yang wajar sepanjang tidak berdampak negatif kepada agama dan kehormatan mereka. Siapa saja yang sering mendengar cerita dan kabar orang-orang pilihan, akan mendapati cara hidup mereka yang semacam itu.
Selain mereka, ada orang yang menginginkan dirinya selalu saja beristirahat tanpa kerja seperti apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang hanya mengisi hidupnya dengan berbagai ritual dan menghabiskan apa saja yang mereka miliki. Mereka lalu menyebut yang demikian itu sebagai tawakal.
Mereka tak sadar bahwa mencari nafkah sama sekali tidak bertentangan dengan tawakkal. Mereka sebenarnya adalah orang-orang pemalas yang bekerja dengan meminta-minta. Mereka tidak malu menengadahkan tangan pada orang lain dan tidak menyadari betapa miskinnya mereka akan ilmu dan amal.”
Disalin dari buku Shaidul Khatir, karya Imam Ibnul Jauziy, pustaka Maghfirah, hlm 253-255